Langkah Perjuangan Kita

Kalau saya bayangkan tentang negara kita, maka negara kita berada di dalam posisi strategis, di antara dua benua dan dua samudera. Kayaknya di sini ga usah dibicarain berapa potensi dan sumberdaya kekayaan alam, modal manusia, modal sosial dan modal intelektual yang dimiliki Indonesia. Tetapi dalam konteks dunia persilatan (eh, salah), perekonomian global, seharusnya Indonesia dapat berperan lebih dalam mengatur perekonomian dunia.

Why? Kenapa? Krisis Pangan dan Energi dunia terjadi karena kita terlalu bergantung pada beberapa komoditas pangan (beras, kedelai, minyak goreng, dan sembako lainnya) dan energi (BBM, Batubara, Gas), pasar komoditas masih dikuasai segelintir orang dengan kaki tangannya yang tersebar sampai di Indonesia. Bagi saya, Rezim Orde Baru dan Rezim Neo Orde Baru yang sekarang ini adalah kaki tangan pasar yang tidak adil tersebut.

Padahal seharusnya kita mampu berbuat sesuatu untuk mencari solusi atas krisis pangan dan energi dunia. Karena apa? Karena kita memiliki keanekaragaman potensi alam yang luar biasa, dan keanekaragaman potensi alam kita adalah nomor satu di dunia. Mau bukti, cobalah kita tanam itu pohon tebu di Arab, terus pohon kurma kita tanam di Indonesia. Silakan tebak mana yang mati, mana yang tumbuh.

Belum lagi potensi energi dan sumber daya mineral yang kita miliki, minyak bumi, gas alam, batubara, panas bumi, bioetanol, nuklir, emas, perak, tembaga, nikel, dll. Emang jumlah dikit sih, tapi beragamnya itu lho, membuat negara kita menjadi sasaran utama Perusahaan Multinasional. Liberalisasi perdagangan konsisten dijalankan di Indonesia, dan ternyata, kita adalah bangsa yang mampu beradaptasi di era kapitalisme global saat ini.

Mestinya dengan BBM naik ampe 3-5 kali di era reformasi ini, sudah terjadi revolusi politik dengan menggulingkan kekuasaan pemerintahan yang sah, tapi yang terjadi malah anarkisme sosial. Rakyat banyak yang mengorganisir diri sendiri agar mampu mengumpulkan modal usaha sendiri, mampu berproduksi dan mengatur distribusi yang adil, agar mencapai kemakmuran bersama. Dan organisasi ini tidak diatur-atur oleh pemerintah. Bahkan pemerintahlah yang cari muka terhadap komunitas seperti ini.

Dalam perekonomian global, justru negara yang tidak konsekuen dengan liberalisasi perdagangan adalah Amerika Serikat, yang ibukotanya jadi tempat penyusunan agenda Konsensus Washington. Konsensus Washington disusun oleh tiga lembaga yang bermarkas di Washington DC, Bank Dunia, IMF, dan Departemen Keuangan AS. Dengan agenda liberalisasi, deregulasi dan privatisasi, mereka memaksakan ideologi pasar bebas ke seluruh negara di dunia. Tapi AS dan Uni Eropa sampai sekarang tidak berani membuka pasar sebebas-bebasnya.

FYI, negara penghutang terbesar di dunia adalah AS dan Inggris, dilanjutkan negara-negara maju, seperti Perancis, Jerman, Jepang, Cina, Rusia, dll. Indonesia berada di urutan ke-30, tapi kok ga maju-maju yah.

Nah, dunia sedang menuju multipolarisasi yang ditandai dengan tumbuhnya kutub ekonomi baru seperti Rusia, India dan Cina. Namun munculnya kutub ini masih ditandai dengan persaingan politik dan militer. Kita lihat konflik di Irak, Afghanistan, dan Georgia baru-baru ini konflik perebutan sumber daya alam yang dapat menjadi modal untuk memperkuat perekonomian sebuah negara kutub ekonomi.

Kalau negara-negara kutub ekonomi seperti AS, Rusia, Cina, India dan Uni Eropa (kalo ini mah bukan negara emoticon) nekat menginvasi Indonesia, maka akibatnya luar biasa, ekonomi dunia bakal kolaps, saudara-saudara! Posisi strategis kita yang menjadi persilangan lalulintas negara AS, Eropa, Cina, India, Rusia, Australia, Malaysia dan Thailand menjadi pertimbangan penting. Bagaimana jika negara kita diserang, lalu kriminalitas meningkat, investor lari, dan lalulintas menjadi tidak aman (karena banyak bajak laut). Soklah investor asing lari bareng modalnya, emang sumber daya kita lari juga gitu, silakan aja kalo sanggup bawanya.

Negara kita harus berpartisipasi aktif dalam percaturan ekonomi-politik global, dengan ikut mengatur perekonomian global demi kemanusiaan, keadilan dan kemakmuran bersama. Apalagi di era multipolar seperti ini, kita mampu menjadi kutub ekonomi dunia, asalkan pemerintah yang ada mampu menyusun kemandirian ekonomi bangsa. Sulit jika kita punya pemerintah yang bermental tengkulak dan tukang ijon. Jika pemerintah mampu menyusun perekonomian mandiri, saya yakin kepercayaan rakyat akan meningkat, dan kita mampu mengatur perekonomian global.

Apakah saya menginginkan imperium dunia, tidak! Dunia tidak mungkin menghilangkan identitas bangsa dan suku, karena toh kita diciptakan dalam keadaan berbangsa2 dan bersuku untuk saling mengenal. bukan saling menghilangkan. Rasa kesukuan harus meningkat menjadi kebangsaan, dan rasa kebangsaan berintegrasi menjadi internasionalisme dan kemanusiaan.

Jika pernah berdiri Pax Romana, Pax Hispanica, Pax Britannica, dan Pax Americana, ayo saya, kamu dan kita, menyusun dan memperjuangkan tata dunia baru yang adil dan damai.

PAX HUMANICA!!! 

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://haniefadrian.blogsome.com/2008/08/21/langkah-perjuangan-kita/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.